Halo semuanya :)
Setelah lama menelantarkan blog ini akhirnya sekarang saya memposting lagi, sekali pun alasan postingan kali ini gara-gara di FFn ga ada fandom dari fanfic yang saya posting di bawah ini sih :p
Well, fic dibawah ini merupakan fanfic daripada sebuah komik karangan Hikawa Kyoko yang berjudul "Otogimoyou Ayanishiki". Kemudian buat yang alergi sama slash, cerita dibawah ini agak menyerempet slash dan pairnya bukan pair canon.
Enjoy reading!!
The Loved One
An Otogimoyou
Ayanishiki Fanfiction
Written by Gokudera
J. Vie
Otogimoyou Ayanishiki © Hikawa Kyoko
Warning: AR. Shinkuro/Genpachi
and Ojaru/Suzu paired.
Aku mencintai Shinkuro-sama
dan Shinkuro-sama membalas
perasaan tersebut. Tapi tak jarang aku merasa ada yang salah dari perasaan yang
kami sebut dengan cinta ini.
Tak dapat dielak, hubungan kami memang agak rumit. Beliau adalah orang yang paling kusayangi di
jagad raya ini, namun bertahun silam, rasa sayang itu hanya sebuah perasaan
anak kepada orang tua. Namun dikarenakan serangkaian kejadian yang terjadi di
sekitar kami berdua, kami menjadi sepasang manusia yang disebut sebagai kekasih
oleh khalayak.
Pernah sekali Genpachiro-dono bertanya mengenai perasaanku, cinta macam apakah yang
kurasakan terhadap Shinkuro-sama ini.
Aku dengan percaya diri menjawab bahwa perasaan ini adalah sebuah perasaan
seorang wanita terhadap seorang pria, bukan perasaan seorang putri kepada
ayahnya. Hanya saja setelah beberapa waktu berlalu dan kami menjalani hari-hari
kami dengan begitu damai, terkadang aku suka meragukan cinta di antara kami.
Serpihan masa lalu bukanlah satu-satunya penyebab
keraguanku. Sedikit banyak, Shinkuro-sama
mengambil dalih dalam permasalahan ini. Entah yang bersangkutan
menyadarinya atau tidak, tapi aku sering melihat Shinkuro-sama jauh lebih bahagia saat menghabiskan waktu bersama Genpachiro-dono dibandingkan denganku, beliau selalu
berusaha menjaga sikap di hadapanku sementara terlihat begitu bebas berada di
samping Genpachiro-dono, dan senyuman lembutnya yang dulu sepertinya
dikhususkan untukku itu kini justru lebih sering ditunjukkannya pada sang Tengu
pelatihan.
Tentu saja aku merasa iri dan cemburu tiap kali Shinkuro-sama menghabiskan waktu dengan
Genpachiro-dono. Genpachiro-dono dan Shinkuro-sama, bagaimana pun, saling mengenal semenjak masih kanak-kanak,
masa lalu yang tak bisa kuubah apa pun yang kulakukan, dunia milik mereka
berdua yang tidak kuketahui dan tak bisa kumasuki. Sekali pun sesekali
Shinkuro-sama akan bercerita mengenai
masa lalu mereka, bagiku itu semua hanya membangun sebuah tembok di antara
kami.
Seperti biasa aku membicarakan masalah-masalahku dengan
Ojaru-sama, tak terkecuali
permasalahanku dengan Shikuro-sama. Sang
mononoke, meski selalu mengeluh tapi
juga selalu memberikan solusi terbaik kepadaku yang kebingungan ini, mengusulkan
agar aku meluruskan benang kusut ini langsung dengan Shinkuro-sama. Aku mengangguk dan menyimpannya
dalam hati, memutuskan menunggu waktu yang tepat.
Saat itu lah Ojaru-sama
akan memukulkan kipasnya dengan pelan ke dahiku, sebuah kebiasaan setelah
percakapan kami berakhir, membuatku mendongak dan menatap wajah tersenyumnya
yang tengah berusaha menghiburku. Merasa tertular senyuman tersebut, aku ikut
tersenyum dan hatiku kembali ringan, selalu terjadi setiap saat. Mungkin karena
wajah Ojaru-sama yang merupakan
cerminan Shinkuro-sama, sikap baiknya
yang mengingatkanku dengan masa laluku dengan Shinkuro-sama, aku selalu jadi bergantung padanya.
Tentu saja, aku tak pernah menganggap Ojaru-sama sebagai Shinkuro-sama apalagi pengganti. Ojaru-sama adalah Ojaru-sama, makhluk penuh harga diri tapi tak pernah ragu untuk menolongku
saat aku terlibat masalah, sosok yang suka seenaknya tapi selalu kembali ke
sisiku tak peduli berapa waktu telah berlalu.
Kemudian, waktu untuk membicarakan kegundahanku dengan
Shinkuro-sama pun tiba. Saat itu hari
berhujan, Genpachiro-dono yang selalu
menemui Shinkuro-sama setiap hari itu
sudah seminggu lebih tidak datang berkunjung, Shinkuro-sama duduk bersila di lorong luar sambil memandang langit kelabu
yang menjatuhkan hujan.
“Apa yang sedang Toto-sama
pikirkan?” Aku mendatangi Shinkuro-sama
dan bertanya, sengaja menggunakan
panggilan lamaku terhadap beliau.
Shinkuro-sama menoleh
menyadari kehadiranku. “Bukan sesuatu yang penting,” ujarnya sambil tersenyum
canggung.
Aku mengambil tempat duduk di samping Shinkuro-sama. “Sudah lebih dari seminggu ya
Genpachiro-dono tidak mampir,” kucoba
memancing reaksi Shinkuro-sama.
Shinkuro-sama hanya
mengangguk tak kentara. Matanya yang selalu bersinar penuh semangat itu tampak
kosong, sungguh berbeda dengan biasanya.
Kugenggam kedua tanganku erat-erat, mengumpulkan tekad.
“Toto-sama,” panggilku. “Apakah Toto-sama menyukai Genpachiro-dono?”
# # #
Shinkuro’s Point of View
“Toto-sama, apakah Toto-sama menyukai Genpachiro-dono?”
Kupandang Suzu dengan heran. Kenapa dia bertanya seperti
itu? “Tentu saja aku menyukai Genpachiro, dia adalah teman dan juniorku.”
Setelah aku mengatakan jawabanku, Suzu hanya memandangku
diam dalam waktu yang lumayan lama, seolah berusaha mempelajari sesuatu dari
raut wajahku, kemudian gadis kecilku itu tersenyum mengerti.
“Iya, ya,” ujarnya, menunduk menatap kedua tangannya di
pangkuannya. “Memang seperti itu ya,” gumamnya, aku tidak tahu kenapa, ataukah
hanya sekedar perasaanku, tapi wajah Suzu tampak sedih.
“Tapi bukan itu yang kumaksud, Toto-sama,” tambahnya, dan aku mulai merasa heran.
Kenapa sedari tadi Suzu kembali memanggilku dengan sebutan “Toto-sama”
dan tidak menggunakan namaku langsung. Aku jadi khawatir. Bukan berarti aku
tidak suka dipanggil seperti itu, bukan juga Suzu tidak boleh menggunakan
panggilan tersebut, hanya terasa seperti kembali ke masa lalu dan hubungan kami
hanyalah ayah dan anak gadisnya saat panggilan tersebut terselip dalam
percakapan.
“Toto-sama,”
panggil Suzu, gadis itu tengah memandangiku yang baru saja melamun.
Ketika aku membalas tatapan mata gadis itu, dia balas
tersenyum lega.
“Toto-sama benar-benar
deh, jika tidak ada Genpachiro-dono jadi
tidak bisa apa-apa,” komentar Suzu, kembali mengalihkan tatapan matanya.
Kalimat itu menusukku dalam, menimbulkan semacam perasaan
bersalah, entah kenapa. Keabsenan Genpachiro yang sudah lebih dari seminggu
memang membuatku cemas dan tidak bisa berkonsentrasi. Aku juga jadi jarang
menghabiskan waktu dengan Suzu karena terlalu sibuk mencemaskan sahabat sejak
kecilku tersebut, mungkin itulah yang membuat Suzu mengatakan kalimat tersebut.
“Aku ingin kita kembali sebagai ayah dan anak perempuannya,
Toto-sama,” lanjut Suzu tanpa
menatapku. “Tidak ada gunanya menjadi kekasih tanpa perasaan,” nada suaranya
terdengar pahit.
Tentu saja aku marah mendengar pernyataan tersebut. Segera kucengkram
bahu Suzu dan memaksanya memandangku. “Apa maksudmu? Tanpa perasaan apanya?
Kita saling mencintai!” seruku dengan wajah geram. Kenapa dia bisa berpikir
hubungan kami didasari tanpa perasaan? “Mungkinkah kau tak lagi memiliki
perasaan yang sama denganku?”
Mata Suzu yang membulat kaget kembali menyipit dan dia
tersenyum sedih ke arahku. “Bukan, bukan aku yang perasaannya berubah. Tapi
Toto-sama,” katanya.
Kugertakkan gigiku. “Berhenti memanggilku, Toto-sama,” bisikku mencoba menahan amarah.
“Toto-sama,” Suzu
tak berhenti. Dia menyentuh tanganku yang masih mencengkram bahunya dan
mendorongnya lembut. “Toto-sama menyakitiku,”
lanjutnya. “Coba Toto-sama bayangkan
andai Toto-sama tak akan bisa
melihatku lagi selamanya,” ujarnya setelah tanganku terlepas dari bahu Suzu.
Aku terdiam, membayangkan seperti titahnya. “Aku akan
begitu sedih sampai menangis dan tangisanku tak bisa berhenti,” jawabku dengan
ekspresi kosong.
Suzu meraih kedua tanganku yang tergeletak lemah di kedua
sisi tubuhku. “Sekarang bayangkan seandainya Toto-sama tidak bisa melihat Genpachiro-dono selamanya,” ujarnya.
Aku membeku. Hidup tanpa Genpachiro, eh? Sudah kurasakan
berkali-kali. Saat bocah itu meninggalkan gunung, membuatku dan guru mencarinya
bermalam-malam. Kemudian ketika guru memutuskan untuk menyerah, aku menghabiskan
semalaman di tempat latihan dan nyaris membuat tempat itu lebur. Yang kedua
kali saat Genpachiro menukar nyawanya untuk membebaskanku dari tengu, rasanya
ada yang begitu berat menggantung di dadaku, amarah terasa menggelegak dan aku
melampiaskannya kepada Yae, yang mana pantas didapatkan wanita siluman
tersebut. Andai aku harus kehilangan Genpachiro lagi sekarang....
“Aku tidak tahu,” ujarku lirih. “Aku tidak tahu apa yang
harus kulakukan kalau sampai dia pergi lagi dari sisiku, tidak sanggup
membayangkan dunia ini tanpa dirinya, tidak tahu.” Airmata mengalir sunyi di
kedua pipiku seiring nyeri di dadaku yang semakin perih.
Genggaman Suzu mengerat sesaat kemudian dia melepaskan
tangannya. “Nah, sekarang Toto-sama mengerti
kan? Kalau begitu, kenapa tidak Toto-sama
panggil saja Genpachiro-dono dan
katakan padanya apa yang Toto-sama katakan
padaku barusan?”
Aku hanya mengangguk dan berdiri. Merasakan tepukan ringan
di punggungku, aku mulai melangkah maju, aku butuh sebuah tempat untuk
memanggil Genpachiro, pikirku. Tapi baru setengah jalan aku melewati halaman,
aku menoleh ke belakang, memandang dari balik tirai hujan Suzu yang sedang
dihibur oleh Ojaru-sama.
Ah, gadis kecilku tidak lagi membutuhkan ayahnya untuk
berada di sampingnya. Anak perempuan mungil yang selalu kulindungi itu kini
telah menemukan ksatrianya sendiri rupanya. Antara sedih dan bangga, aku
berbalik dan melanjutkan langkah kakiku.
Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, Genpachiro.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar