Sabtu, 02 November 2013

The Loved One, An Otogimoyou Ayanishiki Fanfiction

Halo semuanya :)
Setelah lama menelantarkan  blog ini akhirnya sekarang saya memposting lagi, sekali pun alasan postingan kali ini gara-gara di FFn ga ada fandom dari fanfic yang saya posting di bawah ini sih :p
Well, fic dibawah ini merupakan fanfic daripada sebuah komik karangan Hikawa Kyoko yang berjudul "Otogimoyou Ayanishiki". Kemudian buat yang alergi sama slash, cerita dibawah ini agak menyerempet slash dan pairnya bukan pair canon.
Enjoy reading!!

The Loved One

An Otogimoyou Ayanishiki Fanfiction
Written by Gokudera J. Vie
Otogimoyou Ayanishiki © Hikawa Kyoko
Warning: AR. Shinkuro/Genpachi and Ojaru/Suzu paired.


  Suzu’s Point of View

Aku mencintai Shinkuro-sama dan Shinkuro-sama membalas perasaan tersebut. Tapi tak jarang aku merasa ada yang salah dari perasaan yang kami sebut dengan cinta ini.
Tak dapat dielak, hubungan kami memang agak rumit. Beliau adalah orang yang paling kusayangi di jagad raya ini, namun bertahun silam, rasa sayang itu hanya sebuah perasaan anak kepada orang tua. Namun dikarenakan serangkaian kejadian yang terjadi di sekitar kami berdua, kami menjadi sepasang manusia yang disebut sebagai kekasih oleh khalayak.
Pernah sekali Genpachiro-dono bertanya mengenai perasaanku, cinta macam apakah yang kurasakan terhadap Shinkuro-sama ini. Aku dengan percaya diri menjawab bahwa perasaan ini adalah sebuah perasaan seorang wanita terhadap seorang pria, bukan perasaan seorang putri kepada ayahnya. Hanya saja setelah beberapa waktu berlalu dan kami menjalani hari-hari kami dengan begitu damai, terkadang aku suka meragukan cinta di antara kami.
Serpihan masa lalu bukanlah satu-satunya penyebab keraguanku. Sedikit banyak, Shinkuro-sama mengambil dalih dalam permasalahan ini. Entah yang bersangkutan menyadarinya atau tidak, tapi aku sering melihat Shinkuro-sama jauh lebih bahagia saat menghabiskan waktu bersama Genpachiro-dono dibandingkan denganku, beliau selalu berusaha menjaga sikap di hadapanku sementara terlihat begitu bebas berada di samping Genpachiro-dono, dan  senyuman lembutnya yang dulu sepertinya dikhususkan untukku itu kini justru lebih sering ditunjukkannya pada sang Tengu pelatihan.
Tentu saja aku merasa iri dan cemburu tiap kali Shinkuro-sama menghabiskan waktu dengan Genpachiro-dono. Genpachiro-dono dan Shinkuro-sama, bagaimana pun, saling mengenal semenjak masih kanak-kanak, masa lalu yang tak bisa kuubah apa pun yang kulakukan, dunia milik mereka berdua yang tidak kuketahui dan tak bisa kumasuki. Sekali pun sesekali Shinkuro-sama akan bercerita mengenai masa lalu mereka, bagiku itu semua hanya membangun sebuah tembok di antara kami.
Seperti biasa aku membicarakan masalah-masalahku dengan Ojaru-sama, tak terkecuali permasalahanku dengan Shikuro-sama. Sang mononoke, meski selalu mengeluh tapi juga selalu memberikan solusi terbaik kepadaku yang kebingungan ini, mengusulkan agar aku meluruskan benang kusut ini langsung dengan Shinkuro-sama. Aku mengangguk dan menyimpannya dalam hati, memutuskan menunggu waktu yang tepat.
Saat itu lah Ojaru-sama akan memukulkan kipasnya dengan pelan ke dahiku, sebuah kebiasaan setelah percakapan kami berakhir, membuatku mendongak dan menatap wajah tersenyumnya yang tengah berusaha menghiburku. Merasa tertular senyuman tersebut, aku ikut tersenyum dan hatiku kembali ringan, selalu terjadi setiap saat. Mungkin karena wajah Ojaru-sama yang merupakan cerminan Shinkuro-sama, sikap baiknya yang mengingatkanku dengan masa laluku dengan Shinkuro-sama, aku selalu jadi bergantung padanya.
Tentu saja, aku tak pernah menganggap Ojaru-sama sebagai Shinkuro-sama apalagi pengganti. Ojaru-sama adalah Ojaru-sama, makhluk penuh harga diri tapi tak pernah ragu untuk menolongku saat aku terlibat masalah, sosok yang suka seenaknya tapi selalu kembali ke sisiku tak peduli berapa waktu telah berlalu.
Kemudian, waktu untuk membicarakan kegundahanku dengan Shinkuro-sama pun tiba. Saat itu hari berhujan, Genpachiro-dono yang selalu menemui Shinkuro-sama setiap hari itu sudah seminggu lebih tidak datang berkunjung, Shinkuro-sama duduk bersila di lorong luar sambil memandang langit kelabu yang menjatuhkan hujan.
“Apa yang sedang Toto-sama pikirkan?” Aku mendatangi Shinkuro-sama  dan bertanya, sengaja menggunakan panggilan lamaku terhadap beliau.
Shinkuro-sama menoleh menyadari kehadiranku. “Bukan sesuatu yang penting,” ujarnya sambil tersenyum canggung.
Aku mengambil tempat duduk di samping Shinkuro-sama. “Sudah lebih dari seminggu ya Genpachiro-dono tidak mampir,” kucoba memancing reaksi Shinkuro-sama.
Shinkuro-sama hanya mengangguk tak kentara. Matanya yang selalu bersinar penuh semangat itu tampak kosong, sungguh berbeda dengan biasanya.
Kugenggam kedua tanganku erat-erat, mengumpulkan tekad. “Toto-sama,” panggilku. “Apakah Toto-sama menyukai Genpachiro-dono?”

 #             #             # 
Shinkuro’s Point of View

                “Toto-sama, apakah Toto-sama menyukai Genpachiro-dono?”
Kupandang Suzu dengan heran. Kenapa dia bertanya seperti itu? “Tentu saja aku menyukai Genpachiro, dia adalah teman dan juniorku.”
Setelah aku mengatakan jawabanku, Suzu hanya memandangku diam dalam waktu yang lumayan lama, seolah berusaha mempelajari sesuatu dari raut wajahku, kemudian gadis kecilku itu tersenyum mengerti.
“Iya, ya,” ujarnya, menunduk menatap kedua tangannya di pangkuannya. “Memang seperti itu ya,” gumamnya, aku tidak tahu kenapa, ataukah hanya sekedar perasaanku, tapi wajah Suzu tampak sedih.
“Tapi bukan itu yang kumaksud, Toto-sama,” tambahnya, dan aku mulai merasa heran.
Kenapa sedari tadi Suzu kembali memanggilku dengan sebutan “Toto-sama dan tidak menggunakan namaku langsung. Aku jadi khawatir. Bukan berarti aku tidak suka dipanggil seperti itu, bukan juga Suzu tidak boleh menggunakan panggilan tersebut, hanya terasa seperti kembali ke masa lalu dan hubungan kami hanyalah ayah dan anak gadisnya saat panggilan tersebut terselip dalam percakapan.
“Toto-sama,” panggil Suzu, gadis itu tengah memandangiku yang baru saja melamun.
Ketika aku membalas tatapan mata gadis itu, dia balas tersenyum lega.
“Toto-sama benar-benar deh, jika tidak ada Genpachiro-dono jadi tidak bisa apa-apa,” komentar Suzu, kembali mengalihkan tatapan matanya.
Kalimat itu menusukku dalam, menimbulkan semacam perasaan bersalah, entah kenapa. Keabsenan Genpachiro yang sudah lebih dari seminggu memang membuatku cemas dan tidak bisa berkonsentrasi. Aku juga jadi jarang menghabiskan waktu dengan Suzu karena terlalu sibuk mencemaskan sahabat sejak kecilku tersebut, mungkin itulah yang membuat Suzu mengatakan kalimat tersebut.
“Aku ingin kita kembali sebagai ayah dan anak perempuannya, Toto-sama,” lanjut Suzu tanpa menatapku. “Tidak ada gunanya menjadi kekasih tanpa perasaan,” nada suaranya terdengar pahit.
Tentu saja aku marah mendengar pernyataan tersebut. Segera kucengkram bahu Suzu dan memaksanya memandangku. “Apa maksudmu? Tanpa perasaan apanya? Kita saling mencintai!” seruku dengan wajah geram. Kenapa dia bisa berpikir hubungan kami didasari tanpa perasaan? “Mungkinkah kau tak lagi memiliki perasaan yang sama denganku?”
Mata Suzu yang membulat kaget kembali menyipit dan dia tersenyum sedih ke arahku. “Bukan, bukan aku yang perasaannya berubah. Tapi Toto-sama,” katanya.
Kugertakkan gigiku. “Berhenti memanggilku, Toto-sama,” bisikku mencoba menahan amarah.
“Toto-sama,” Suzu tak berhenti. Dia menyentuh tanganku yang masih mencengkram bahunya dan mendorongnya lembut. “Toto-sama menyakitiku,” lanjutnya. “Coba Toto-sama bayangkan andai Toto-sama tak akan bisa melihatku lagi selamanya,” ujarnya setelah tanganku terlepas dari bahu Suzu.
Aku terdiam, membayangkan seperti titahnya. “Aku akan begitu sedih sampai menangis dan tangisanku tak bisa berhenti,” jawabku dengan ekspresi kosong.
Suzu meraih kedua tanganku yang tergeletak lemah di kedua sisi tubuhku. “Sekarang bayangkan seandainya Toto-sama tidak bisa melihat Genpachiro-dono selamanya,” ujarnya.
Aku membeku. Hidup tanpa Genpachiro, eh? Sudah kurasakan berkali-kali. Saat bocah itu meninggalkan gunung, membuatku dan guru mencarinya bermalam-malam. Kemudian ketika guru memutuskan untuk menyerah, aku menghabiskan semalaman di tempat latihan dan nyaris membuat tempat itu lebur. Yang kedua kali saat Genpachiro menukar nyawanya untuk membebaskanku dari tengu, rasanya ada yang begitu berat menggantung di dadaku, amarah terasa menggelegak dan aku melampiaskannya kepada Yae, yang mana pantas didapatkan wanita siluman tersebut. Andai aku harus kehilangan Genpachiro lagi sekarang....
“Aku tidak tahu,” ujarku lirih. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau sampai dia pergi lagi dari sisiku, tidak sanggup membayangkan dunia ini tanpa dirinya, tidak tahu.” Airmata mengalir sunyi di kedua pipiku seiring nyeri di dadaku yang semakin perih.
Genggaman Suzu mengerat sesaat kemudian dia melepaskan tangannya. “Nah, sekarang Toto-sama mengerti kan? Kalau begitu, kenapa tidak Toto-sama panggil saja Genpachiro-dono dan katakan padanya apa yang Toto-sama katakan padaku barusan?”
Aku hanya mengangguk dan berdiri. Merasakan tepukan ringan di punggungku, aku mulai melangkah maju, aku butuh sebuah tempat untuk memanggil Genpachiro, pikirku. Tapi baru setengah jalan aku melewati halaman, aku menoleh ke belakang, memandang dari balik tirai hujan Suzu yang sedang dihibur oleh Ojaru-sama.
Ah, gadis kecilku tidak lagi membutuhkan ayahnya untuk berada di sampingnya. Anak perempuan mungil yang selalu kulindungi itu kini telah menemukan ksatrianya sendiri rupanya. Antara sedih dan bangga, aku berbalik dan melanjutkan langkah kakiku.
Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, Genpachiro.

END

Tidak ada komentar: